Sabtu, 08 April 2017

Anak dan film kartun

Anak dan film kartun

Halo, sudah lama sekali sejak terakhir saya menulis sesuatu di blog ini.
Beberapa waktu lalu ketika saya sedang menonton film kartun Rusia. Tiba-tiba ada seorang anak tetangga sebelah datang.
Saya tidak tahu pasti berapa umurnya. Anak ini baru duduk di bangku TK (Taman Kanak-kanak).
Karena tertarik ia langsung saja duduk di samping saya dan terlihat menikmati film tersebut.
Yang menarik adalah ia tidak mengomentari apapun kecuali ikut tertawa jika ada adegan yang lucu.
Film tersebut saya download dari YouTube sehingga tidak memiliki subtitle.
Judulnya Малышарики bukan Marsha And The Bear lho.
Sambil menonton, saya mengajukan pertanyaan
"Udah pernah liat film ini belum?"
Dia menjawab, "Belum !
"Bagus gak film nya?"
"Bagus !" sahutnya.
Ada hal yang menarik di sini.
Si anak tidak melontarkan pertanyaan konyol seperti,
"Ngomong apa sih mereka?"
"Gak ngerti ah omongan mereka !"
Dan ungkapan sejenis itu.
Padahal si anak yang baru pertama kali nonton film kartun Rusia.
Si anak tidak memproteksi dirinya dan cenderung menerima saja apa yang sedang ia saksikan.
Si anak mungkin saat itu fokus dengan gambar atau tampilan visualnya saja dan cenderung mengabaikan faktor audio nya.
Sehingga ia tampak enjoy dengan film tersebut.
Ia tidak ambil pusing dengan bahasa asing atau bahasa yang sedang dituturkan oleh orang di dalam adegannya.
Ini menunjukkan bahwa sesuatu tidak bisa kita nilai berdasarkan satu aspek.
Saya pun ketika nonton film ini mencoba menerka maksud dari setiap percakapan mereka menggunakan intuisi saya.
Cara ini pernah saya gunakan ketika meningkatkan listening bahasa Inggris via video-video di YouTube.
Di awal mungkin terasa canggung bingung dengan 'pronunciation' (pengucapannya) yang masih terdengar asing di telinga.
Tapi karena sering mendengar bahkan melakukan aktivitas tersebut berulang kali sedikit demi sedikit mulai ada yang nyantol di kepala.
Menurut saya kuncinya adalah membuka diri walaupun kita tidak mengerti.
Wajar-wajar saja kalau di awal merasa tidak bisa.
Saya yakin dengan membiarkan kata-kata tersebut masuk berulang kali kita akan bisa memahaminya.
Dan tidak perlu bakat khusus untuk melakukannya.
Belajar bahasa apapun pasti memerlukan proses yang tidak mudah terlebih untuk membiasakan diri dengan kata yang aneh.
Namun seperti yang pernah saya ulas pada sebuah tulisan di blog ini bahwa listening ( baik itu dari lagu, podcast, atau film sekalipun ) merupakan pondasi atau dasar untuk mempelajari sebuah bahasa.
Si anak tadi mengajarkan saya untuk tidak terlalu khawatir akan ketidaktahuan selama kita menikmati aktivitas tersebut.
Bisa karena biasa, mungkin ungkapan yang tepat untuk mengakhiri tulisan ini.
Salam Leski

Artikel Terkait

Anak dan film kartun
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email